Appi-Rahman Pecahkan Rekor Muri Kategori Tukang Lapor Terbanyak ke Kantor Polisi

  • Whatsapp
Ilustrasi: Thanos adalah tokoh antagonis dalam film Avengers/ist.

POROSMAJU.ID, MAKASSAR – Demokrasi di Indonesia kerap menjadi bahan lelucon sebab muncul dengan paras lugu di depan kamera, namun memegang sebilah pisau di belakang panggung.

Ada satu anekdot demokrasi yang pas untuk mengurai situasi hari-hari ini di masa pemilu.

Read More

banner 300250

Seorang teman bercerita, ia mengungkapkan fakta lain soal demokrasi. Ia mengatakan negara dengan tingkat demokrasi terbaik di dunia adalah Indonesia.

Ia pun membandingkan kualitas penerapan demokrasi di Indonesia dan Amerika.

Di Amerika, kata dia, untuk mengetahui hasil pemenang pemilu, masyarakat tak membutuhkan waktu lama usai menentukan pilihan. Setelah orang-orang ‘mencoblos’, hasilnya akan muncul dalam tempo cepat.

Di sana teknologi sudah canggih, sehingga setiap keculasan dan kebohongan politik bisa terdeteksi dengan baik.

Sementara di Indonesia, pemenang hasil pemilu sudah keluar jauh-jauh hari sebelum orang-orang melakukan pencoblosan.

“Bukankah kita telah melampaui teknologi Amerika dalam melihat demokrasi di Indonesia?”

***

Berkaca pada pilkada 2018 lalu, anekdot di atas rasanya sudah tak pas lagi untuk melihat demokrasi dengan pandangan sinis di Kota Makassar.

Kemenangan kotak kosong yang menumbangkan kepongahan kekuasaan menjadi bukti bahwa masyarakat Makassar sudah cerdas.

Hal itu membuktikan setidaknya satu hal, demokrasi di Makassar sudah tak bisa dibeli dengan uang.

Kemenangan kotak kosong adalah sejarah pertama di Indonesia. Sejumlah peneliti demokrasi membilangkan simbol runtuhnya omong kosong politik dan bangkitnya suara rakyat.

Terlepas dari kemenangan kotak kosong, ada satu fakta menarik yang luput jadi percakapan publik, bahwa calon wali kota yang pernah gagal tersebut menggunakan strategi yang sama di pilkada 2020.

Tukang Lapor

Selama 2 periode pilkada di Makassar, kantor polisi penuh dengan laporan dugaan pelanggaran pilkada. Tahun ini, tradisi politik tersebut seperti mengulang sejarahnya.

Adalah pasangan Appi-Rahman yang paling getol memulai tradisi tersebut. Bila merunut dari pilkada 2018 lalu, Appi diam-diam telah memecahkan rekor muri dengan kategori tukang lapor terbanyak di pilkada.

Anda bisa membayangkan pada 2018 saja, Munafri Arifuddin dengan penuh kebanggaan, bukannya meyakinkan masyarakat dengan visi-misinya di hadapan masyarakat, dirinya justru paling gemar bertandang ke kantor polisi.

“Apakah demokrasi ada di kantor polisi?” kata teman.

Pada pilkada 2018, Appi dengan seluruh tenaga dan semangat pantang mundurnya berhasil mengumpulkan poin atau laporan sekitar 47 kasus pada lawan politiknya, Moh. Ramdhan Pomanto.

Hanya saja, pada tahun ini, laporan tersebut terbilang berkurang, hanya sekitar puluhan laporan saja. Namun yang pasti, strategi tersebut bagi Appi, masih layak digunakan untuk memenangi pilkada di masa tenang.

“Bukankah Appi hendak menumbangkan demokrasi di Makassar?” kata teman sambil berbisik, ia takut suaranya terdengar dan menjadi perbincangan publik.

Lalu, seperti alur film pada sinetron Indosiar, kita dengan mudah dapat menebak kelanjutan alur ceritanya.

“Lapor lagi ke kantor polisi,” celutuk teman yang lain.

Selain tukang lapor, Appi juga memecahkan rekor lain, ia didapuk pemenang spanduk terbanyak di Kota Makassar. Wajah dan namanya bertumpuk dan mewarnai Kota Makassar.

Berdasarkan laporan KPU Makassar, di antara semua kandidat, Appi-Rahman yang paling banyak mengeluarkan dana kampanye, angkanya menyentuh 17, 33 miliar.

Sementara calon lain, pasangan calon nomor 3, Ical-Fadli, 13.53 miliar, pasangan Imun, 13.57 miliar dan ADAMA’ sebesar 14.09 miliar.

***

Seorang teman melanjutkan ceritanya, ia mengatakan ada satu anekdot demokrasi yang pas untuk melihat demokrasi dengan pandangan sinis di Kota Makassar.

“Apa itu?”

“Untuk memenangkan pilkada di Makassar tidak perlu dicintai dan sosialisasi kepada rakyat, cukup menggagalkan lawan dengan melapor ke kantor polisi,” ucap dengan nada serius.

“Bukankah sejarah kotak kosong lahir karena itu?” teman yang lain protes.

“Justru di situ lucunya,”

 

Catatan:

– Kisah di atas adalah upaya merekonstruksi ulang demokrasi di Makassar.

– Apa pesan moral dari kisah di atas?

– Mari kembali menyegarkan ingatan sebelum menentukan pilihan pada 9 Desember mendatang?

Related posts